Friday, December 28, 2018

Begok Juga Punya Toko

Begok Juga Punya Toko
(Catatan lama)

Kalau dipikir-pikir menjadi guru itu begitu banyak warna. Banyak yang menyenangkan, tapi tidak sedikit yang menyedihkan. Namun semua itu merupakan pegalaman yang tidak terlupakan. Kalau saja rasa syukur terus ditumbuhkan, maka potongan-potongan pengalaman tersebut menjadi rangkaian kehidupan yang indah untuk dikenang.

Sekolah kami adalah sekolah swasta kecil. Berdiri ditengah-tengah keramaian hiruk-pikuk pusat perdagangan. Muridnya heterogen, datang dari berbagai suku dan strata ekonomi yang berbeda-beda. Tapi rata-rata kemampuan belajarnya lambat. Mungkin karena guru-gurunya seperti aku, tidak profesional.

Para orangtua yang berkecukupan, atau bahkan berkelebihan bukannya senang memasukkan anak-anaknya di sekolah itu. Mereka kebanyakan sudah frustasi memindah-mindahkan anaknya dari sekolah-sekolah bagus yang bayarannya mahal.

"Di sekolahkan di tempat yang bagus dan mahal juga percuma saja. Bukannya belajar dengan baik, malahan menghabis-habiskan uang orangtua saja kerjaannya," itu salah-satu alasan dari orangtua. Maklum mereka adalah para pedagang, apapun dihitung dari untung ruginya secara finansial.

Bagi para orangtua kaya memasukkan sekolah di tempat kami yang kecil dan tidak favorite, sekedar jangan sampai anaknya tidak sekolah saja. Biayanya juga tidak terlalu mahal.

Sementara kami menerima anak-anak dari orangtua kaya itu untuk menutupi biaya operasional. Karena kami juga menerima anak-anak dari keluarga kirang beruntung yang bayarannya sering nunggak berbulan-bulan atau bahkan sama-sekali tidak mampu membayar.

Sebenarnya dilematis menerima anak-anak pindahan yang orangtuanya kaya itu. Mereka justru menambah persoalan. Kebanyakan dari mereka membawa dampak buruk bagi siswa lainnya. Kebanyakan kebiasaan buruk mereka adalah judi dan mabuk-mabukkan. Kami para guru, berkerja keras membimbing mereka agar sedikit berubah kebiasaannya. Sementara itu kami juga berusaha memberi pengarahan kepada siswa lainnya agar tidak terbawa-bawa kebiasaan buruk itu.

Suatu hari di bulan Ramadhan, aku berada di sekolah lebih lama. Sepulang sekolah mengadakan pelajaran tambahan lebih dulu untuk siswa kelas tiga. Sesungguhnya aku tidak terlalu berharap mereka masuk ke perguruan tinggi negeri, cukup asalkan nilai NEM Matematika mereka tidak kecil-kecil amat.

Setelah sekitar setengah jam mengajar, pekerjaanku terusik dengan suasana di luar kelas. Dari balik jendela kulihat banyak anak-anak berjalan ke kelas yang di pojok sekolah. Aku curiga pasti ada sesuatu yang tidak beres. Jam sekolah sudah selesai dan guru-guru yang lain sudah pulang. Karena kuatir ada masalah yang gawat, segera kuhentikan pelajaran. Kemudian cepat-cepat pergi ke kelas pojok yang mencurigakan. Sesampainya di kelas itu, benar saja kulihat suasana yang luar biasa menjenggelkan. Kelas tersebut penuh dengan anak-anak yang sedang bermain judi pakai kartu remi. Terdiri dari beberapa kelimpok.

Sebenarnya ada keraguan untuk mengusir mereka waktu itu. Bukan apa-apa bagi para penjudi, terutama yang kalah, emosi mereka bisa meledak jika dihentikan permainannya. Tapi aku berpikir cepat, segala resiko akan kuambil. Selagi bulan Ramadhan, alangkah jelekknya membiarkan para muridku bermain judi.

"Hay, semuanya pada pulang! Ambil duit kalian masing-masing!" perintahku setengah hati.

Syukurlah mereka tidak melawan dan mau menuruti perintahku. Walau ada yang sambil bersungut-sungut mereka semua keluar dari sekolah.

Besoknya kejadian tersebut kuceritakan kepada wakil kepala sekolah.

"Jadi Bapak sudah membubarkan mereka?" tanya Pak Wakasek kepadaku.

"Sudah, Pak. Lantas bagaimana tidak lanjutnya? Kapan kita memanggil orangtua mereka?"

"Buat apa? Percuma saja. Ini bukan pertama kali terjadi," jawab Wakasek. Terdengar seperti orang yang tidak perduli atau mungkin sudah frustasi.

"Masakan begitu, Pak. Mereka harus diproses. Orangtua mereka harus dipanggil dan harus membuat perjanjian. Bermain judi itu pelanggaran, sudah gitu di sekolah lagi."

"Sudahlah, Pak. Mereka mau nurut ketika dibubarkan Bapak saja sudah bagus. Kebiasaan mereka memang sudah terlanjur berat. Sudahlah berpikir yang enak-enak saja buat mereka. Biar mereka kalah judi terus-menerus berhari-hari juga, orangtua mereka tidak akan jatuh miskin."

"Kok gitu sih Bapak ngomongnya? Kalau sering-sering berjudi, mereka bisa kerajingan. Gimana mau belajar, kalau di pikiran mereka hanya judi dan judi saja?"

"Ya, paling juga begok. Tapi ngga apa-apa begok jugak. Orangtua mereka juga ngga menuntut pintar. Yang penting sekolah, dan lulus es-em-a. Cukup sudah. Mereka begok juga punya toko. Setelah lulus, tinggal ikut dagang pada orangtuanya."

Eh, busyet! Aku jadi bengong mendengarkan penjelasan Wakasek. Biar begok juga punya toko ini, katanya.

Monday, November 26, 2018

7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif

TUJUH (7) KEBIASAAN MANUSIA YANG SANGAT EFEKTIF  :
(Stephen Cover)
Kebiasaan 1 :
Jadilah Proaktif

Bersikap proaktif adalah lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Bersikap proaktif artinya bertanggung jawab atas perilaku kita sendiri (di masa lalu, di masa sekarang, maupun di masa mendatang), dan membuat pilihan-pilihan berdasarkan prinsip-prinsip serta nilai-nilai ketimbang pada suasana hati atau keadaan. Orang-orang proaktif adalah pelaku-pelaku perubahan dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak bersikap reaktif, untuk tidak menyalahkan orang lain. Mereka lakukan ini dengan mengembangkan serta menggunakan keempat karunia manusia yang unik – kesadaran diri, hati nurani, daya imajinasi, dan kehendak bebas – dan dengan menggunakan Pendekatan Dari Dalam Ke Luar untuk menciptakan perubahan. Mereka bertekad menjadi daya pendorong kreatif dalam hidup mereka sendiri, yang adalah keputusan paling mendasar yang bisa diambil setiap orang.

Kebiasaan 2 : Merujuk pada Tujuan Akhir

Segalanya diciptakan dua kali – pertama secara mental, kedua secara fisik. Individu, keluarga, tim, dan organisasi, membentuk masa depannya masing-masing dengan terlebih dulu menciptakan visi serta tujuan setiap proyek secara mental. Mereka bukan menjalani kehidupannya hari demi hari tanpa tujuan-tujuan yang jelas dalam benak mereka. Secara mental mereka identifikasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai, hubungan-hubungan, dan tujuan-tujuan yang paling penting bagi mereka sendiri dan membuat komitmen terhadap diri sendiri untuk melaksanakannya. Suatu pernyataan misi adalah bentuk tertinggi dari penciptaan secara mental, yang dapat disusun oleh seorang individu, keluarga, atau organisasi. Pernyataaan misi ini adalah keputusan utama, karena melandasi keputusan-keputusan lainnya. Menciptakan budaya kesamaan misi, visi, dan nilai-nilai, adalah inti dari kepemimpinan.

Kebiasaan 3 : Dahulukan yang Utama

Mendahulukan yang utama adalah penciptaan kedua secara fisik. Mendahulukan yang utama artinya mengorganisasikan dan melaksanakan, apa-apa yang telah diciptakan secara mental (tujuan Anda, visi Anda, nilai-nilai Anda, dan prioritas-prioritas Anda). Hal-hal sekunder tidak didahulukan. Hal-hal utama tidak dikebelakangkan. Individu dan organisasi memfokuskan perhatiannya pada apa yang paling penting, entah mendesak entah tidak. Intinya adalah memastikan diutamakannya hal yang utama.

Kebiasaan 4 : Berpikir Menang/Menang

Berpikir menang/menang adalah cara berpikir yang berusaha mencapai keuntungan bersama, dan didasarkan pada sikap saling menghormati dalam semua interaksi. Berpikir menang/menang adalah didasarkan pada kelimpahan – “kue” yang selamanya cukup, peluang, kekayaan, dan sumber-sumber daya yang berlimpah – ketimbang pada kelangkaan serta persaingan. Berpikir menang/menang artinya tidak berpikir egois (menang/kalah) atau berpikir seperti martir (kalah/menang). Dalam kehidupan bekerja maupun keluarga, para anggotanya berpikir secara saling tergantung – dengan istilah “kita”, bukannya “aku”. Berpikir menang/menang mendorong penyelesaian konflik dan membantu masing-masing individu untuk mencari solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan. Berpikir menang/menang artinya berbagi informasi, kekuasaan, pengakuan, dan imbalan.

Kebiasaan 5 : Berusaha untuk Memahami Terlebih dulu, Baru Dipahami

Kalau kita mendengarkan dengan seksama, untuk memahami orang lain, ketimbang untuk menanggapinya, kita memulai komunikasi sejati dan membangun hubungan. Kalau orang lain merasa dipahami, mereka merasa ditegaskan dan dihargai, mau membuka diri, sehingga peluang untuk berbicara secara terbuka serta dipahami terjadi lebih alami dan mudah. Berusaha memahami ini menuntut kemurahan; berusaha dipahami menuntut keberanian. Keefektifan terletak dalam keseimbangan di antara keduanya.

Kebiasaan 6 : Wujudkan Sinergi

Sinergi adalah soal menghasilkan alternatif ketiga – bukan caraku, bukan caramu, melainkan cara ketiga yang lebih baik ketimbang cara kita masing-masing. Memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada dalam mengatasi masalah, memanfaatkan peluang. Tim-tim serta keluarga-keluarga yang sinergis memanfaatkan kekuatan masing-masing individu sehingga secara keseluruhannya lebih besar seperti ini mengenyampingkan sikap saling merugikan (1 + 1 = 1/2). Mereka tidak puas dengan kompromi (1 + 1 = 1 ½), atau sekedar kerjasama (1 + 1 = 2). Melainkan, mereka kejar kerjasama yang kreatif (1 + 1 = 3 atau lebih).

Kebiasaan 7 : Mengasah Gergaji

Mengasah gergaji adalah soal memperbaharui diri terus-menerus dalam keempat bidang kehidupan dasar: fisik, sosial/emosional, mental, dan rohaniah. Kebiasaan inilah yang meningkatkan kapasitas kita utnuk menerapkan kebiasaan-kebiasaan efektif lainnya. Bagi sebuah organisasi, Kebiasaan 7 menggalakkan visi, pembaharuan, perbaikan terus-menerus, kewaspadaan terhadap kelelahan atau kemerosotan moral, dan memposisikan organisasinya di jalan pertumbuhan yang baru. Bagi sebuah keluarga, Kebiasaan 7 meningkatkan keefektifan lewat kegiatan-kegiatan pribadi maupun keluarga secara berkala, seperti membentuk tradisi-tradisi yang merangsang semangat pembaharuan keluarga.

Tuesday, September 26, 2017

Prosedur Operasi Berurutan

3 + 2 X 5 - 7 = ....?

Dalam menghitung operasi berurutan seperti diatas perlu diketahui urutan prosedur berikut:
1. Dahulukan bilangan di dalam kurung.
2. Hitung lebih dulu 'perpangkatan' atau 'penarikan akar'
3. Kemudian hitung 'operasi perkalian/pembagian', bila bilangan didalam kurung dan perpangkatan/penarikan akar tidak ada atau sudah selesai dihitung.
4. Terakhir baru hitung operasi 'penjumlahan/pengurangan'

Contoh:

3 - 2 + (6 - 2) X 5 =
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. 3 - 2 + 4 X 5 (yang di dalam kurung diselesaikan lebih dulu)
2. 3 - 2 + 20 (selesaikan operasi perkalian 4 X 5)
3. 2
Jadi 3 - 2 + (6 - 2) X 5 = 21

Kembali ke soal diatas
3 + 2 X 5  - 7 = 6
Bukan 18

Kata Kunci
Yang "lebih tua" dahulukan:
Dalam kurung - "perpangkatan/penarikan akar" - "perkalian/pembagian" - "penjumlahan/pengurangan."

Prosedur Perkalian

Matematika Untuk Orangtua

PROSEDUR PERKALIAN
Perbedaan 3 X 2 dengan 2 X 3

Perkalian adalah operasi penjumlahan berulang.
Ketika mengajarkan ke anak  tentang konsep perkalian (terutama untuk anak-anak usia sekolah dasar), maka perlu diperkenalkan dulu "Kontekstualnya".
Memang sepertinya bertele-tele, tapi ini sangat penting. Kegunaan memperkenalkan konteks salah satunya adalah untuk lebih memperkuat pemahamannya tentang perkalian.

Berikan contoh-contoh yang mereka kenal sehari-hari. Misalkan saja tentang tulisan  dosis obat yang  yang kita peroleh dari dokter atau apoteker.
Contohnya tertera tulisan sebagai berikut:
3 x 1 dan 3 x 2
3 X 1 maksudnya 3 kali sehari masing-masing 1 tablet artinya
1 tablet pagi + 1 tablet siang + 1 tablet malam.
jadi 3 X 1 = 1 + 1 + 1
Demikian juga 3 X 2 yang berarti 3 kali sehari masing-masing 2 tablet.
3 X 2 = 2 tablet pagi + 2 tablet siang + 2 tablet malam.
Ingatkan pada anak jika dosis 3 X 2 digunakannya "salah", yaitu 3 tablet + 3 tablet akan berbahaya bisa mengakibatkan over dosis. Walaupun sama jumlah obat yang diminum setiap hari, yaitu 6, tetapi ini salah secara prosedur.
Dan ingatkan kepada mereka prosedur ini pun berlaku saat menghitung perkalian pada pelajaran Matematika.

Catatan:
Meskipun berlaku sifat komutatif pada perkalian, artinya hasil akhirnya sama saja. Contoh: 3 X 2 dengan 2 X 3, tetapi prosedur perhitungannya berbeda.

Monday, September 18, 2017

Komunis Saudara Kembar Kapitalis

Komunis Saudara Kembar Kapitalis

Di Jerman, di negara yang begitu maju saja masih ada orang-orang yang kebanyakan menelan  biji kedondong bulat-bulat. Masih pingin hidup dalam masa lalu.  Masih pingin NAZI bangkit kembali.  Tetapi sesungguhnya mereka tidaklah seberapa,  sebagian kecil saja dari rakyat Jerman. Kecil sekali.

Demikian juga di Indonesia ada orang-orang yang menginginkan bangkitnya kembali paham komunis. Tentu saja tidak terus terang, karena paham komunis memang terlarang di Indonesia. Orang-orang tersebut bukan saja penelan biji kedondong, tapi mereka juga pemakan micin yang overdosis. Mereka itu kebanyakan orang-orang yang sakit hati, dan gagal berdamai dengan masa lalu. Tetapi jumlah mereka sangat-sangat sedikit. Karena memang komunis sudah tidak menarik lagi. Sudah basi.

Oleh karena itu, boleh saja mengkuatirkan kebangkitan PKI, namun janganlah paranoid berlebihan. Sesungguhnya paham komunis sudah bangkrut. Uni Soviet sudah terpecah belah. Sekarang sempalan terbesarnya, Rusia justru sedang membangkitkan ekonomi dan politiknya secara kapitalis bersaing dengan raksasa kapitalis lainnya. Sedangkan dedengkot komunis yang lain, China  justru lebih  kapitalis dibanding Amerika sendiri.

Di Indonesia pada saat ini ekonomi dikuasai para brengsek kapitalis. Mereka menjelma menjadi konglomerat-konglomerat rakus. Jumlahnya memang sedikit, cuman sekitar satu persen saja. Tapi jumlah sekecil itu, nyaris menguasai 95 persen perekonomian Indonesia.

Jadi menurut saya yang paling harus di waspadai itu justru  para konglomerat rakus tersebut. Mereka memang sangat kuat, karena sudah terbentuk jaringan gurita yang lama dan berakar kuat. Mereka menguasai  berbagai bidang kehidupan, terutama sekali bidang ekonomi. Sehingga mudah terlihat begitu jomplangnya gap si kaya dan si miskin.

Tetapi meskipun kapitalisme berbahaya, tetapi mereka begitu manis terasa. Jadi orang-orang tidak mempersoalkannya, terlebih apapun usaha mengatasinya  memperlukan modal, sedangkan pemilik modal adalah justru para kapitalis itu sendiri.

Jadi apabila tidak suka pada paham komunis, maka benci jugalah pada paham kapitalis. Kedua paham itu sama-sama kampretnya. Terlahir dari rahim yang sama, yaitu rahim yang pandangannya  berdasarkan kebendaan semata. Berdasarkan materi, menapikkan hal-hal non materi. Jangan bicara tentang Tuhan pada mereka. Komunis tidak percaya pada Tuhan. Kapitalis memang percaya pada Tuhan, tapi Tuhannya adalah duit.

Sunday, September 17, 2017

Pernikahan Dan Perlawanan Pada Budaya Hedonisme

Pernikahan Dan Perlawanan Pada Budaya Hedonisme

Seorang teman menikahkan putri pertamanya. Tentu saja sebagai orangtua,  dia pasti menyayangi anaknya. Terlebih putrinya itu begitu membanggakan keluarga, dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di jurusan kedokteran.

Jadi sebenarnya lebih dari wajar, apabila pesta pernikahan putrinya itu diadakan secara meriah. Hitung-hitung pesta dua acara sekaligus. Sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pendidikan, dan juga sekaligus pesta pernikahannya. Saya yakin dia mampu mengadakannya. Secara ekonomi dia cukup mampu untuk itu.

Tapi temanku itu berbeda dengan kebanyakan orang. Dia memang mengadakan syukuran. Bener-bener syukuran,  bukan pesta pernikahan seperti biasa yang kita temui. Cukup menarik buat saya. Acaranya sederhana, bukan tergolong pesta yang besar-besaran. Yang diundangnya pun terbatas, hanya kerabat dan sebagian teman-temannya  saja. Dan ada satu hal lagi yang tidak umum di masyarakat, di undangan tercantum kata-kata permohonan untuk tidak memberikan bingkisan baik kado ataupun uang kondangan. Saya salut dengan keluarganya.  Memang terkesan sepele, tapi hal itu adalah bentuk perlawanan terhadap budaya Hedonisme. Selain itu yang datang ketempat syukurannya tentu tidak terbebani dengan apa yang harus dibawanya sebagai bingkisan.

Cuman buat saya tetap aja ada kurangnya. Kenapa kalau syukurannya seperti ini, saya kok ngga diundang sih. Kan, lumayan dapat makan gratis.

Thursday, March 24, 2016

Jagoan Kesiangan (Memahami Keberagaman)

Jagoan Kesiangan
Berpikir bahwa semua yang beragama dan berkepercayaan yang berbeda dengan yang kita anut adalah bodoh semua. Ngga ada yang pinter. Sehingga mempercayai dan menganut agama yang salah. Dari mulai yang paling tinggi kedudukannya di antara mereka sampai yang paling rendah, bego semua. Karena tidak mau mengikuti keyakinan yang sama seperti yang kita anut.
Hay...hay, maaf. Kamu bangun kesiangan.
Sudah dari dulu, sudah berabad-abad yang lalu orang-orang memperdebatkannya. Kemudian oleh para pencinta dunia dan kekuasaan dijadikan alat propaganda untuk menciptakan peperangan dimana-mana. Peperangan dengan mengatasnamakan perbedaan keyakinan itu.
Sudahlah perbaikilah dirimu. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan, agar orang awam sepertiku tidak melihat agamamu melalui kelakuanmu yang jelek. Sehingga semakin menjauh dari apa yang kamu yakini.
Sudahkah kamu sampaikan walaupun dengan satu ayat dengan akhlakmu?
Boleh-boleh saja menyebut orang lain sebagai 'orang-orang tersesat' atau 'orang yang belum dapat hidayah'. Tapi itu sebatas diantaramu, diantara keluargamu, diantara komunitasmu, diantara sesama penganut agama atau kepercayaan yang sama denganmu.
Jangan kamu ucapkan itu di depan umum, termasuk di sosial media. Ingat sosial media juga milik umum. Percayalah, ngga akan ada habisnya. Karena pasti menurut yang diluar, yang tidak sama denganmu, justru menganggap kamulah yang tersesat, dan kamulah yang belum dapat hidayah.
Agama atau kepercayaan adalah pilihan setiap orang. Pilihan menuju jalan Tuhan yang diyakininya. Marilah kita hidup bersama dengan damai atas nama kemanusian. Karena dunia milik kita bersama. Mengenai akhirat, biarlah nanti Allah yang menentukan.
"Saudara yang tidak seiman denganmu, adalah saudara dalam kemanusiaan."