Tuesday, September 26, 2017

Prosedur Operasi Berurutan

3 + 2 X 5 - 7 = ....?

Dalam menghitung operasi berurutan seperti diatas perlu diketahui urutan prosedur berikut:
1. Dahulukan bilangan di dalam kurung.
2. Hitung lebih dulu 'perpangkatan' atau 'penarikan akar'
3. Kemudian hitung 'operasi perkalian/pembagian', bila bilangan didalam kurung dan perpangkatan/penarikan akar tidak ada atau sudah selesai dihitung.
4. Terakhir baru hitung operasi 'penjumlahan/pengurangan'

Contoh:

3 - 2 + (6 - 2) X 5 =
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. 3 - 2 + 4 X 5 (yang di dalam kurung diselesaikan lebih dulu)
2. 3 - 2 + 20 (selesaikan operasi perkalian 4 X 5)
3. 2
Jadi 3 - 2 + (6 - 2) X 5 = 21

Kembali ke soal diatas
3 + 2 X 5  - 7 = 6
Bukan 18

Kata Kunci
Yang "lebih tua" dahulukan:
Dalam kurung - "perpangkatan/penarikan akar" - "perkalian/pembagian" - "penjumlahan/pengurangan."

Prosedur Perkalian

Matematika Untuk Orangtua

PROSEDUR PERKALIAN
Perbedaan 3 X 2 dengan 2 X 3

Perkalian adalah operasi penjumlahan berulang.
Ketika mengajarkan ke anak  tentang konsep perkalian (terutama untuk anak-anak usia sekolah dasar), maka perlu diperkenalkan dulu "Kontekstualnya".
Memang sepertinya bertele-tele, tapi ini sangat penting. Kegunaan memperkenalkan konteks salah satunya adalah untuk lebih memperkuat pemahamannya tentang perkalian.

Berikan contoh-contoh yang mereka kenal sehari-hari. Misalkan saja tentang tulisan  dosis obat yang  yang kita peroleh dari dokter atau apoteker.
Contohnya tertera tulisan sebagai berikut:
3 x 1 dan 3 x 2
3 X 1 maksudnya 3 kali sehari masing-masing 1 tablet artinya
1 tablet pagi + 1 tablet siang + 1 tablet malam.
jadi 3 X 1 = 1 + 1 + 1
Demikian juga 3 X 2 yang berarti 3 kali sehari masing-masing 2 tablet.
3 X 2 = 2 tablet pagi + 2 tablet siang + 2 tablet malam.
Ingatkan pada anak jika dosis 3 X 2 digunakannya "salah", yaitu 3 tablet + 3 tablet akan berbahaya bisa mengakibatkan over dosis. Walaupun sama jumlah obat yang diminum setiap hari, yaitu 6, tetapi ini salah secara prosedur.
Dan ingatkan kepada mereka prosedur ini pun berlaku saat menghitung perkalian pada pelajaran Matematika.

Catatan:
Meskipun berlaku sifat komutatif pada perkalian, artinya hasil akhirnya sama saja. Contoh: 3 X 2 dengan 2 X 3, tetapi prosedur perhitungannya berbeda.

Monday, September 18, 2017

Komunis Saudara Kembar Kapitalis

Komunis Saudara Kembar Kapitalis

Di Jerman, di negara yang begitu maju saja masih ada orang-orang yang kebanyakan menelan  biji kedondong bulat-bulat. Masih pingin hidup dalam masa lalu.  Masih pingin NAZI bangkit kembali.  Tetapi sesungguhnya mereka tidaklah seberapa,  sebagian kecil saja dari rakyat Jerman. Kecil sekali.

Demikian juga di Indonesia ada orang-orang yang menginginkan bangkitnya kembali paham komunis. Tentu saja tidak terus terang, karena paham komunis memang terlarang di Indonesia. Orang-orang tersebut bukan saja penelan biji kedondong, tapi mereka juga pemakan micin yang overdosis. Mereka itu kebanyakan orang-orang yang sakit hati, dan gagal berdamai dengan masa lalu. Tetapi jumlah mereka sangat-sangat sedikit. Karena memang komunis sudah tidak menarik lagi. Sudah basi.

Oleh karena itu, boleh saja mengkuatirkan kebangkitan PKI, namun janganlah paranoid berlebihan. Sesungguhnya paham komunis sudah bangkrut. Uni Soviet sudah terpecah belah. Sekarang sempalan terbesarnya, Rusia justru sedang membangkitkan ekonomi dan politiknya secara kapitalis bersaing dengan raksasa kapitalis lainnya. Sedangkan dedengkot komunis yang lain, China  justru lebih  kapitalis dibanding Amerika sendiri.

Di Indonesia pada saat ini ekonomi dikuasai para brengsek kapitalis. Mereka menjelma menjadi konglomerat-konglomerat rakus. Jumlahnya memang sedikit, cuman sekitar satu persen saja. Tapi jumlah sekecil itu, nyaris menguasai 95 persen perekonomian Indonesia.

Jadi menurut saya yang paling harus di waspadai itu justru  para konglomerat rakus tersebut. Mereka memang sangat kuat, karena sudah terbentuk jaringan gurita yang lama dan berakar kuat. Mereka menguasai  berbagai bidang kehidupan, terutama sekali bidang ekonomi. Sehingga mudah terlihat begitu jomplangnya gap si kaya dan si miskin.

Tetapi meskipun kapitalisme berbahaya, tetapi mereka begitu manis terasa. Jadi orang-orang tidak mempersoalkannya, terlebih apapun usaha mengatasinya  memperlukan modal, sedangkan pemilik modal adalah justru para kapitalis itu sendiri.

Jadi apabila tidak suka pada paham komunis, maka benci jugalah pada paham kapitalis. Kedua paham itu sama-sama kampretnya. Terlahir dari rahim yang sama, yaitu rahim yang pandangannya  berdasarkan kebendaan semata. Berdasarkan materi, menapikkan hal-hal non materi. Jangan bicara tentang Tuhan pada mereka. Komunis tidak percaya pada Tuhan. Kapitalis memang percaya pada Tuhan, tapi Tuhannya adalah duit.

Sunday, September 17, 2017

Pernikahan Dan Perlawanan Pada Budaya Hedonisme

Pernikahan Dan Perlawanan Pada Budaya Hedonisme

Seorang teman menikahkan putri pertamanya. Tentu saja sebagai orangtua,  dia pasti menyayangi anaknya. Terlebih putrinya itu begitu membanggakan keluarga, dia baru saja menyelesaikan kuliahnya di jurusan kedokteran.

Jadi sebenarnya lebih dari wajar, apabila pesta pernikahan putrinya itu diadakan secara meriah. Hitung-hitung pesta dua acara sekaligus. Sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pendidikan, dan juga sekaligus pesta pernikahannya. Saya yakin dia mampu mengadakannya. Secara ekonomi dia cukup mampu untuk itu.

Tapi temanku itu berbeda dengan kebanyakan orang. Dia memang mengadakan syukuran. Bener-bener syukuran,  bukan pesta pernikahan seperti biasa yang kita temui. Cukup menarik buat saya. Acaranya sederhana, bukan tergolong pesta yang besar-besaran. Yang diundangnya pun terbatas, hanya kerabat dan sebagian teman-temannya  saja. Dan ada satu hal lagi yang tidak umum di masyarakat, di undangan tercantum kata-kata permohonan untuk tidak memberikan bingkisan baik kado ataupun uang kondangan. Saya salut dengan keluarganya.  Memang terkesan sepele, tapi hal itu adalah bentuk perlawanan terhadap budaya Hedonisme. Selain itu yang datang ketempat syukurannya tentu tidak terbebani dengan apa yang harus dibawanya sebagai bingkisan.

Cuman buat saya tetap aja ada kurangnya. Kenapa kalau syukurannya seperti ini, saya kok ngga diundang sih. Kan, lumayan dapat makan gratis.

Thursday, March 24, 2016

Jagoan Kesiangan
Berpikir bahwa semua yang beragama dan berkepercayaan yang berbeda dengan yang kita anut adalah bodoh semua. Ngga ada yang pinter. Sehingga mempercayai dan menganut agama yang salah. Dari mulai yang paling tinggi kedudukannya di antara mereka sampai yang paling rendah, bego semua. Karena tidak mau mengikuti keyakinan yang sama seperti yang kita anut.
Hay...hay, maaf. Kamu bangun kesiangan.
Sudah dari dulu, sudah berabad-abad yang lalu orang-orang memperdebatkannya. Kemudian oleh para pencinta dunia dan kekuasaan dijadikan alat propaganda untuk menciptakan peperangan dimana-mana. Peperangan dengan mengatasnamakan perbedaan keyakinan itu.
Sudahlah perbaikilah dirimu. Berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan, agar orang awam sepertiku tidak melihat agamamu melalui kelakuanmu yang jelek. Sehingga semakin menjauh dari apa yang kamu yakini.
Sudahkah kamu sampaikan walaupun dengan satu ayat dengan akhlakmu?
Boleh-boleh saja menyebut orang lain sebagai 'orang-orang tersesat' atau 'orang yang belum dapat hidayah'. Tapi itu sebatas diantaramu, diantara keluargamu, diantara komunitasmu, diantara sesama penganut agama atau kepercayaan yang sama denganmu.
Jangan kamu ucapkan itu di depan umum, termasuk di sosial media. Ingat sosial media juga milik umum. Percayalah, ngga akan ada habisnya. Karena pasti menurut yang diluar, yang tidak sama denganmu, justru menganggap kamulah yang tersesat, dan kamulah yang belum dapat hidayah.
Agama atau kepercayaan adalah pilihan setiap orang. Pilihan menuju jalan Tuhan yang diyakininya. Marilah kita hidup bersama dengan damai atas nama kemanusian. Karena dunia milik kita bersama. Mengenai akhirat, biarlah nanti Allah yang menentukan.
"Saudara yang tidak seiman denganmu, adalah saudara dalam kemanusiaan."

Thursday, February 19, 2009

GURU VS GOOGLE

DIDAKTIKA
Guru Lawan Google
Senin, 16 Februari 2009 | 00:35 WIB

R Arifin Nugroho

”It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change." (Charles Darwin)

Saat ini perkembangan ilmu pengetahuan telah menjadi pilar utama penyempurnaan hidup di muka bumi. Akibatnya, berbagai perubahan harus selalu terjadi setiap saat.

Sesuai pernyataan Charles Darwin, jika manusia tidak ingin mengalami kepunahan, mereka harus memiliki sifat adaptif. Dalam menjalankan proses adaptasi tersebut diperlukan efektivitas untuk merespons perubahan.

Akibat perilaku yang harus adaptif ini muncul teknologi komunikasi yang mampu melintasi sekat ruang dan waktu. Perubahan di dunia dapat diketahui lewat sebuah laptop hanya dalam hitungan detik.

Agen pendidikan

Salah satu teknologi canggih yang mampu memfasilitasi ilmu pengetahuan adalah Google. Google yang lahir dari pertemuan tidak sengaja antara Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 telah membalikkan sekat keterbatasan informasi.

Embrio search engine yang diberi nama BackRub, pada tanggal 7 September 1998 berkembang sempurna menjadi Google. Mesin pencari supercanggih ini dapat mencari sebuah istilah hanya dalam satuan detik yang tersaji dalam jutaan situs internet.

Di dunia pendidikan, search engine ini mampu mengubah jejaring pemikiran para pelaku pendidikan. Seorang siswa dapat searching seluas-luasnya untuk mengeksplorasi sebuah pengetahuan baru. Dari mencari arti kata, materi pelajaran, sampai teknologi yang terkini dapat digali dengan mudah.

Banjir informasi menjadi fenomena yang sangat indah untuk dinikmati. Pemahaman tentang sebuah materi pelajaran pun terolah dengan lebih baik. Siswa tidak lagi harus mengeluarkan banyak biaya untuk membeli berbagai judul buku. Cukup klik dan dapat!

Para pendidik juga tidak ketinggalan atas kehebatan teknologi mesin pencari ini. Dari pencarian silabus, soal ulangan, sampai artikel ilmiah terbaru dapat diakses dengan mudah. Transfer ilmu pengetahuan antara guru dan siswa dapat berjalan dengan efektif. Libido ilmu pengetahuan yang selama ini terkekang sekarang dapat tersalurkan dengan nyaman.

Lebih dari Google

Suatu saat pernah seorang guru menjadi merah padam di depan kelas akibat Google ini. Pagi itu seorang siswa sudah ”sarapan” dengan mengakses perkembangan teknologi terbaru melalui fasilitas Google.

Kebetulan, materi pelajaran hari itu berhubungan dengan teknologi terkini yang ia temukan. Singkat cerita, di dalam kelas, siswa mencobai gurunya dengan bertanya seputar teknologi terbaru itu. Guru yang tadi pagi hanya sarapan nasi dan tempe itu akhirnya menjawab sekenanya, dan ternyata salah. Ia pun tergagap di depan kelas karena ditertawakan para murid akibat kesalahan yang ia lakukan.

Sekelumit gambaran tadi menunjukkan pentingnya seorang guru untuk selalu meng-up grade diri. Siswa masuk kelas bukan lagi dengan tidak bermodal, tetapi telah penuh dengan fantasi dan eksplorasi ilmiahnya.

Melihat situasi ini, lantas masih perlukah peran seorang guru? Bukankah Google lebih hebat daripada guru?

Jika seorang guru diadu dengan Google dalam kecepatan mengartikan, jelas guru akan kalah telak. Lalu, bagaimana nasib seorang guru selanjutnya?

Perlu diingat bahwa seorang guru bukan hanya pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai pendidik yang memanusiawikan manusia menjadi sempurna. Yesus Sang Isa Almasih pernah berkata, ”Jadilah kamu sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya (Injil Matius 5:48)”.

Ilmu eling marang sangkan paraning dumadi (ingat akan tujuan kita diciptakan) menjadi bekal dasar seorang guru. Guru bukan sekadar pesaing dari Google sebagai alat mentransfer ilmu pengetahuan. Guru memiliki peran lebih untuk menyempurnakan kehidupan seorang pribadi agar serupa dengan Sang Khalik. Tidak hanya menjadikan siswa having, melainkan being.

Seperti dalam agama Hindu, guru bukan saja dinobatkan sebagai sang pembagi ilmu, tetapi sebagai tempat suci yang berisi ilmu (vidya). Hal ini semakin menguatkan peran guru yang sangat mulia.

Guru masih lebih unggul daripada Google karena guru mampu mengajarkan sisi humanis yang tidak dapat diberikan mesin pencari secanggih apa pun. Dalam kehidupan nyata tidak hanya diperlukan berlimpahnya ilmu pengetahuan dalam otak, tetapi juga sisi manusiawi agar bisa memanusiawikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan memanusiawikan manusia saat berelasi dengan pribadi lain.

Bukan kebun binatang

Jika guru tetap sebatas mentransfer ilmu, sekolah tidak jauh berbeda dengan kebun binatang. Sebenarnya pendidikan bukanlah proses ”penjinakan”, tetapi ”peliaran”. Pendidikan kita seharusnya berusaha ”meliarkan”, memunculkan sifat manusiawi sebagai sifat dasar yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada makhluk yang diberi nama manusia.

Pendidikan bukanlah seperti kebun binatang dengan hiburan sirkus binatang di dalamnya. Di dalam kebun binatang terjadi proses domestikasi, yaitu membatasi kehidupan liar binatang. Akibatnya, sifat hewani tidak akan muncul dari dalam kebun binatang.

Jeruji, tembok pembatas, dan ransum makanan menjadi cara untuk domestikasi. Atraksi berbagai binatang yang sering kita jumpai di kebun binatang semakin meyakinkan pembatasan kehidupan mereka. Para binatang tidak lagi diajar untuk bisa survive di kehidupan hewani liarnya, tetapi justru diajar untuk melakukan tindakan-tindakan aneh.

Mana mungkin di tengah hutan ada monyet naik sepeda. Mana mungkin di tengah samudra yang penuh kompetisi dapat diatasi lumba-lumba karena kecerdasannya dalam mengerjakan soal penjumlahan.

Jika guru telah lupa untuk mengajarkan sifat manusiawi suatu ilmu pengetahuan dan memanusiawikan peserta didik, pendidikan yang terjadi tidak jauh berbeda dengan situasi di kebun binatang.

Pemahaman kita perlu disegarkan kembali bahwa teknologi hanyalah hasil akhir dari ilmu pengetahuan yang bersifat material, bisa rusak, bisa berubah, dan suatu saat bisa tidak bermanfaat. Karena itu, interaksi antarmanusia yang didasari kontak teknologi belaka akan terasa kering karena bersandar pada nilai material.

Pendidikan tidak dapat bersandar pada teknologi semata, melainkan juga harus melibatkan hati yang dimiliki setiap pribadi manusia.

Akhirnya ungkapan Charles Darwin akan semakin tepat dan survive jika dipadu dengan ungkapan indah Mariah Carey dalam lagunya yang berjudul ”Hero”: If you look inside your heart… you know you can survive. (Jika engkau becermin ke dalam hatimu, engkau tahu bahwa engkau bisa bertahan!)

R ARIFIN NUGROHO Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

BEBERAPA TANGGAPAN DARI TEMAN MILIS

Milis yang berbahagia.

Ceritanya biasa tapi menarik dan menantang. siswa meminta komentar guru tentang informasi baru yang telah diaksesnya, dan guru dengan PD merespon tetapi tidak tepat karena mamang sang guru kita tidak mampu/sempat mengaksesnya. Dua sisi teknologi informasi : memudahkan menyiapkan informasi lebih lengkap, up to date dan mudah diakses tapi menyulitkan : membutuhkan upaya tambahan untuk mengakses yang tidak selalu mampu dipenuhi oleh guru.
Sebagai seorang profesional, guru harus berusaha (baca: mampu) menguasai dan mengikuti perkembangan termasuk teknologi, tapi sebagai manusia, guru tentu punya keterbatasan. Karena hal ini, guru perlu kreatif tanpa henti (berupaya belajar, merubah metoda belajar dengan berefleksi, membentuk grup belajar kreatif, numpang ke alat kawan,dll), juga lingkungan (komite sekolah, LSM, stake holders pendidikan dll) perlu membantu guru. Hal ini tantangan baru dalam menyusun strategi manajemen sekolah/pembelajara n.

Tentu disayangkan kalau guru tidak mengakui ketidaktahuannya. Dalam zaman kesaratderasan informasi yang dapat diakses darimana dan kapanpun, sebaiknya guru mengakui ketidaktahuannya, jangan pura-pura tahu, jangan pula tidak mau tahu. Berusahalah tahu perkembangan informasi, dan yang lebih penting membantu siswa memilih, mengakses dan memperoleh informasi yang 'edukatif' serta memastikan siswa memperoleh efek positif dari informasi yang diperolehnya.

Selanjutnya saya setuju : fungsi guru tidak seluruhnya dapat digantikan oleh alat sekalipun bertehnologi tinggi. Pendidikan bukan hanya masalah menguasai informasi seperti didengungkan "siapa menguasai informasi menguasai dunia". Tujuan pendidikan kita bukan hanya masalah 'tahu' tapi secara kreatif cerdas menggunakan pengetahuan, bukan hanya memiliki pengetahuan perasaan dan metakognisi tapi pengalaman perasaan dan metakognisi, bukan hanya kemampuan individual untuk bersaing tapi kemampuan membuat sebaik mungkin dan seefektif mungkin jaringan (tentunya melalui kerjasama) untuk meningkatkan kemampuan bersaing diri. Teknologi informasi dapat menyediakan informasi tapi tidak dapat menyediakan pengalaman kerjasama secara langsung dan vulgar, pengelolaan perasaan siswa yang sedang mencari identitas, pengalaman kontak batin dengan sesama dan harmoni kehidupan, sebagai mana guru dapat melakukannya di tempat pembelajaran. Alat teknologi dapat membantu menyediakan informasi pengenalan diri bagi siswa, tapi tidak dapat melayani mereka dengan hati sebagai mana guru dapat melakukannya. Teknologi dapat menyediakan informasi bahkan memberi kemudahan untuk mengaksesnya, tapi teknologi tidak dapat membantu siswa memilih secara selektif dan mengawasi efek informasi yang diperolehnya sebagamana guru dapat melakukannya lebih baik. Sebaiknya guru tidak ditempatkan sebagai lawan, tapi 'sahabat' dalam memajukan pendidikan anak bangsa. Bravo tuk guru


--- On Mon, 2/16/09, Budi K. Hendra wrote:

From: Budi K. Hendra
Subject: [puskur] Cuma mo sharing aja..
To: puskur@yahoogroups. com
Date: Monday, February 16, 2009, 3:20 PM


Tulisan yang membuat kita tersadar sangat sedikit guru yang familiar internet, menyedihkan ...hatiu - hati kelibas zaman

--- On Mon, 2/16/09, rasinta eveline wrote:

From: rasinta eveline
Subject: Re: [puskur] Cuma mo sharing aja..
To: puskur@yahoogroups. com
Date: Monday, February 16, 2009, 12:11 PM

Kalau saya memandang berkenaan dengan tulisan Guru VS Geogle sebagai suatu tantangan bagi guru untuk terus berusaha MEMOTIVASI siswa mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya. Sedangkan pekerjaan memotivasi adalah pekerjaan guru yang paling berat.Bahkan beda guru yang prof dan yang tidak adalah masalah kemampuan memberi motivasi ini. Bahkan menurut saya, seorang guru tidak perlu terlalu pintar, tidak mesti juga harus memaksakan diri belajar TIK ( tentu saja sebaiknya iya). Asalkan dia mahir memberi motivasi.

bicarisme.blogspot. com


Seru juga baca guru vs google.
Saya setuju, jika guru pun memang sudah seharusnya menambah terus pengetahuannya, agar tak tertinggal.

Saya pernah berkunjung ke almamater saya di SMPN 19 Jakarta, kira-kira setahun yang lalu.
Dan bertemu dengan Pak Slamet, guru IPA (Biologi) yang notabene lumayan sudah "sepuh".
Tapi, beliau sungguh luar biasa menurut saya.
Kenapa...?
Karena, dengan usia yang sudah hampir pensiun,
beliau masih semangat mengajar, mengetik sendiri dengan komputer paket pembelajaran untuk siswa-siswanya.
Dan, mencari bahan pembelajaran tidak hanya dari buku yang ada,
tapi juga dari internet.

Ada yang masih teringat kata-kata beliau untuk saya:
"Ayo donk, kamu anak muda, jangan kalah sama saya yang sudah tua".

www.hastuti105. multiply. com

Monday, January 26, 2009

HIKAYAT DUA EKOR SAPI

DUPLICATE FROM EKO PATRIO

HIKAYAT DUA EKOR SAPI

“Duplicated from Eko Patrio”

  1. SOSALISME

Kau punya dua ekor sapi,

satu ekor kau berikan kepada para tetanggamu se-erte untuk dijadikan

milik mereka bersama.


  1. KOMUNISME

Kau punya dua ekor sapi,

negara mengambilnya satu ekor,

kemudian kamu diberikannya segelas susu.


C. FASISME

Kau punya dua ekor sapi,

negara mengambil alih dua-duanya,

kemudian memaksamu membeli susu dari negara.


  1. NAZI-ISME

Kau punya dua ekor sapi,

negara merebutnya dengan terlebih dahulu menembakmu,

kemudian memaksa keluargamu untuk membeli susu dari negara.


  1. KAPITALISME

Kau punya dua ekor sapi betina,

Yang satu kau jual semahal-mahalnya,

Kemudia kamu beli satu ekor sapi jantan dengan harga semurah-murahnya.

Kemudian keduanya kau ansuransikan.

Sapimu bertambah, ekonomi naik, peduli setan dengan para tetanggamu.


  1. INDONESIAN CORUPTOR

Kau punya dua ekor sapi,

Dua-duanya hasil curian.

Kemudian kamu pekerjakan orang dengan upah murah untuk

memelihara kedua ekor sapi itu.

Setelah itu kamu jual susu sapi dengan terlebih dahulu mencapurnya dengan air

limbah deterjen bekas mencuci pakaian,

dengan perbandingan satu gelas susu dicampur dengan satu ember limbah.


  1. BICARISME KONSERVATIF

Kau punya dua ekor sapi,

Kau senang sekali, karenanya kau menonton sinetron.

Setelah sinetron usai, kau tersadar ternyata sapi-sapi itu sudah tidak ada lagi,

Untungnya ketika punya pun, itu hanya sebatas angan-angan.


AND WHAT DO YOU THING?